Keuangan 9 menit baca

Cara Menghitung HPP Perusahaan Manufaktur: Komponen Biaya dan Contoh Perhitungannya

Pelajari cara menghitung harga pokok produksi perusahaan manufaktur melalui biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, overhead pabrik, dan persediaan dalam proses.

Oleh digitalisasi.app Diperbarui 3 November 2026
Pekerja di lini perakitan pabrik manufaktur

Bayangkan dua perusahaan memproduksi 5.000 unit barang dengan bentuk yang sama, tetapi belum tentu mengeluarkan biaya produksi yang sama. Perusahaan pertama membeli bahan dalam jumlah besar dengan harga lebih rendah. Perusahaan kedua memakai lebih banyak jam mesin karena jadwal produksinya berubah. Keduanya menghasilkan barang jadi, tetapi biaya yang melekat pada barang tersebut dapat berbeda.

Itulah sebabnya menghitung HPP perusahaan manufaktur tidak cukup dengan menjumlahkan pembelian bahan baku lalu membaginya dengan jumlah produk. Ada biaya tenaga kerja, biaya tidak langsung pabrik, serta barang yang masih dalam proses ketika periode akuntansi berakhir.

Untuk menghitung harga pokok produksi, perusahaan perlu mengetahui biaya yang benar-benar digunakan dalam proses manufaktur dan membedakannya dari biaya periode seperti pemasaran atau administrasi umum.

Apa yang dimaksud HPP dalam manufaktur?

Dalam konteks artikel ini, HPP merujuk pada harga pokok produksi: biaya yang dikumpulkan untuk menghasilkan barang yang selesai diproduksi selama suatu periode. Istilah ini perlu dibedakan dari harga pokok penjualan, yaitu biaya persediaan yang diakui sebagai beban ketika barang dijual.

Secara umum, biaya manufaktur terdiri atas tiga kelompok:

  1. Bahan baku langsung: material yang dapat ditelusuri secara langsung ke produk.
  2. Tenaga kerja langsung: tenaga kerja yang secara langsung mengerjakan produk atau proses produksinya.
  3. Biaya overhead pabrik (BOP): biaya produksi selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung, seperti bahan penolong, tenaga kerja tidak langsung, utilitas pabrik, pemeliharaan, dan penyusutan fasilitas produksi.

IAS 2 dari IFRS Foundation menyatakan bahwa biaya persediaan mencakup biaya pembelian, biaya konversi—termasuk tenaga kerja langsung dan overhead produksi—serta biaya lain yang diperlukan untuk membawa persediaan ke lokasi dan kondisi saat ini. IFRS — IAS 2 Inventories.

Langkah 1 — Hitung bahan baku langsung yang digunakan

Pembelian bahan baku selama periode belum tentu sama dengan bahan yang benar-benar masuk ke produksi. Sebagian mungkin masih berada di gudang pada akhir periode.

Rumus dasarnya:

Bahan baku langsung digunakan
= Persediaan awal bahan baku
+ Pembelian bersih bahan baku
+ Biaya perolehan langsung yang dapat diatribusikan
- Persediaan akhir bahan baku

Pembelian bersih memperhitungkan retur dan potongan pembelian. Biaya seperti bea masuk, angkut masuk, atau penanganan yang dapat diatribusikan langsung juga dapat menjadi bagian biaya perolehan bahan. Pastikan angka pembelian yang dipakai belum memasukkan biaya tersebut sebelum menambahkannya, agar tidak terjadi penghitungan ganda. IAS 2 menjelaskan bahwa harga pembelian serta biaya transportasi/penanganan yang dapat diatribusikan langsung termasuk biaya pembelian, sedangkan diskon dan rabat dikurangkan. IAS 2, paragraf 11–12.

Contoh ilustrasi:

  • Persediaan awal bahan baku: Rp15.000.000
  • Pembelian bersih dan biaya perolehan langsung: Rp45.000.000
  • Persediaan akhir bahan baku: Rp10.000.000

Maka bahan baku yang digunakan adalah:

Rp15.000.000 + Rp45.000.000 - Rp10.000.000 = Rp50.000.000

Tidak semua material pabrik otomatis menjadi bahan baku langsung. Bahan penolong yang dipakai untuk mendukung produksi tetapi tidak praktis ditelusuri ke unit tertentu biasanya diklasifikasikan sebagai overhead pabrik.

Langkah 2 — Hitung tenaga kerja langsung

Tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang berkaitan langsung dengan pembuatan produk. Contohnya dapat berupa operator yang melakukan proses pencampuran, pengisian, perakitan, atau pengemasan apabila aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses manufaktur dan pencatatannya dapat ditelusuri.

Biaya tenaga kerja langsung dapat dihitung berdasarkan jam kerja yang benar-benar dialokasikan untuk produksi, upah per pekerjaan, atau pendekatan lain yang sesuai dengan sistem perusahaan. Jangan otomatis memasukkan semua gaji karyawan pabrik sebagai tenaga kerja langsung. Supervisor produksi, teknisi pemeliharaan, atau petugas kebersihan area produksi dapat masuk kategori overhead, bergantung pada fungsi pekerjaannya.

Untuk contoh ini, biaya tenaga kerja langsung selama periode adalah Rp20.000.000.

Langkah 3 — Kumpulkan biaya overhead pabrik

Overhead pabrik adalah biaya yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan produksi, tetapi tidak diklasifikasikan sebagai bahan baku langsung atau tenaga kerja langsung.

Contoh biaya overhead:

Komponen Contoh
Bahan tidak langsung Bahan pembersih atau material penolong
Tenaga kerja tidak langsung Supervisor produksi, teknisi pemeliharaan
Utilitas Listrik dan air untuk fasilitas produksi
Penyusutan Mesin dan bangunan yang digunakan dalam produksi
Pemeliharaan Perawatan mesin dan peralatan produksi
Biaya fasilitas Biaya lain yang memenuhi kriteria biaya produksi

Untuk simulasi, total overhead pabrik periode tersebut adalah Rp30.000.000.

Perlu diperhatikan bahwa tidak semua pengeluaran perusahaan masuk ke biaya produk. Beban pemasaran, administrasi umum, dan penjualan pada umumnya merupakan biaya periode, bukan biaya manufaktur. IAS 2 juga mengecualikan beberapa biaya dari biaya persediaan, termasuk pemborosan bahan atau tenaga kerja yang tidak normal, biaya penyimpanan yang tidak diperlukan dalam proses produksi, overhead administrasi yang tidak berkontribusi membawa persediaan ke kondisi saat ini, dan biaya penjualan. IAS 2 — Inventories.

Langkah 4 — Hitung total biaya produksi periode ini

Setelah bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead diketahui, jumlahkan ketiganya.

Total biaya produksi periode ini
= Bahan baku langsung digunakan
+ Tenaga kerja langsung
+ Overhead pabrik

Menggunakan angka ilustrasi:

Komponen Biaya
Bahan baku langsung digunakan Rp50.000.000
Tenaga kerja langsung Rp20.000.000
Overhead pabrik Rp30.000.000
Total biaya produksi periode ini Rp100.000.000

Angka Rp100 juta tersebut belum otomatis menjadi harga pokok produksi barang selesai. Sebagian biaya mungkin masih melekat pada barang yang belum selesai dikerjakan di akhir periode.

Langkah 5 — Perhitungkan barang dalam proses (WIP)

Barang dalam proses atau work in process (WIP) adalah barang yang sudah masuk proses manufaktur tetapi belum selesai menjadi barang jadi pada tanggal pelaporan.

Rumus harga pokok produksi:

Harga Pokok Produksi
= WIP awal
+ Total biaya produksi periode ini
- WIP akhir

Dengan asumsi:

  • WIP awal: Rp10.000.000
  • Total biaya produksi periode ini: Rp100.000.000
  • WIP akhir: Rp15.000.000

Maka:

Rp10.000.000 + Rp100.000.000 - Rp15.000.000 = Rp95.000.000

Jadi, harga pokok produksi periode tersebut adalah Rp95.000.000. Biaya yang masih melekat pada WIP akhir belum menjadi biaya barang yang selesai diproduksi pada periode ini.

Perhitungan ini sejalan dengan laporan harga pokok produksi yang digunakan dalam akuntansi manufaktur: WIP awal ditambahkan ke biaya produksi, lalu WIP akhir dikurangkan untuk memperoleh biaya produk selesai. Penjelasan aliran biaya persediaan juga dapat dilihat pada materi OpenStax tentang penelusuran biaya melalui akun persediaan.

Langkah 6 — Hitung biaya produksi rata-rata per unit

Jika Rp95 juta tersebut merupakan biaya yang dialokasikan kepada satu jenis produk homogen dan 5.000 unit selesai diproduksi, perhitungan sederhana biaya per unitnya adalah:

Rp95.000.000 ÷ 5.000 unit = Rp19.000 per unit

Angka Rp19.000 adalah biaya produksi rata-rata per unit dalam ilustrasi ini. Perhitungan tidak boleh langsung menggunakan pembagian sederhana jika perusahaan menghasilkan beberapa SKU, memiliki barang dalam proses dengan tingkat penyelesaian berbeda, menghasilkan produk sampingan, atau memerlukan alokasi overhead antarproduk. Dalam situasi tersebut, perusahaan membutuhkan metode pengumpulan dan alokasi biaya yang sesuai dengan prosesnya.

Rekapitulasi contoh perhitungan

Tahap Nilai
Bahan baku langsung digunakan Rp50.000.000
Tenaga kerja langsung Rp20.000.000
Overhead pabrik Rp30.000.000
Total biaya produksi periode ini Rp100.000.000
Tambah WIP awal Rp10.000.000
Kurang WIP akhir (Rp15.000.000)
Harga pokok produksi Rp95.000.000
Unit selesai (asumsi) 5.000 unit
Biaya produksi rata-rata per unit Rp19.000

Semua angka pada contoh ini bersifat hipotetis untuk menunjukkan cara kerja rumus, bukan benchmark biaya pabrik tertentu.

Kesalahan yang membuat perhitungan HPP manufaktur meleset

Menganggap pembelian sama dengan pemakaian. Bahan yang dibeli belum tentu seluruhnya digunakan dalam produksi. Saldo awal dan akhir bahan baku harus diperhitungkan.

Tidak membedakan tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Pengelompokan yang keliru dapat membuat biaya produk terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Membagi seluruh overhead dengan jumlah unit tanpa memeriksa dasar alokasi. Cara ini mungkin menjadi pendekatan awal untuk produk homogen, tetapi tidak selalu adil untuk produk yang memakai waktu mesin, setup, inspeksi, atau aktivitas berbeda.

Mengabaikan WIP. Jika masih ada barang belum selesai pada akhir periode, seluruh biaya tidak boleh dianggap sebagai biaya produk yang sudah selesai.

Memasukkan biaya penjualan dan administrasi ke biaya produksi tanpa dasar. Hal tersebut dapat mengaburkan perbedaan biaya manufaktur dan biaya periode.

Menggunakan output rencana, bukan output aktual yang relevan. Perhitungan biaya per unit perlu menggunakan jumlah unit selesai dan basis alokasi yang konsisten. Reject, rework, dan kehilangan normal/abnormal perlu dicatat serta diperlakukan dengan benar.

HPP bukan satu-satunya angka yang perlu dipantau

HPP membantu perusahaan memahami biaya barang yang diproduksi, tetapi belum menjawab berapa biaya barang yang akhirnya terjual. Untuk itu, perusahaan perlu menghubungkan harga pokok produksi dengan persediaan barang jadi dan menghitung harga pokok penjualan.

Perusahaan juga perlu memastikan biaya per unit dapat ditelusuri ke SKU atau batch jika manajemen ingin membandingkan hasil produksi antarproduk atau antarperiode. Catatan produksi, pemakaian bahan, jam kerja, overhead, WIP, dan persediaan jadi perlu memakai periode serta definisi yang konsisten.

Jika data produksi, gudang, dan akuntansi berada di beberapa file atau aplikasi, tantangannya bukan hanya menghitung rumus. Tantangannya adalah menyatukan transaksi sumber dan memastikan setiap angka memiliki asal-usul yang dapat diperiksa. Sistem aplikasi kustom dapat dirancang untuk menghubungkan alur tersebut sesuai proses perusahaan; lihat digitalisasi.app sebagai salah satu opsi pengembangan sistem bisnis.


Metadata editorial

  • Keyword utama: cara menghitung HPP perusahaan manufaktur
  • Intent: informasional dan kalkulasi; pembaca ingin memahami komponen dan rumus harga pokok produksi.
  • Pembaca: owner, manajer keuangan, akuntan biaya, dan manajer produksi.
  • Nilai khas: contoh angka terhubung dari bahan baku sampai WIP akhir, plus batas kapan biaya per unit tidak bisa dihitung dengan pembagian sederhana.
  • Internal link yang disarankan: “HPP vs COGM vs COGS”, “HPP per Batch vs HPP per SKU”, dan “Activity-Based Costing vs Traditional Costing”.
  • Catatan: seluruh angka adalah simulasi. Kebijakan akuntansi dan standar yang berlaku harus diverifikasi oleh akuntan perusahaan.

Referensi

  1. IFRS Foundation — IAS 2 Inventories
  2. OpenStax — Three Major Components of Product Costs
  3. OpenStax — Cost Flow Through Inventory Accounts