Keuangan 8 menit baca

Job Order Costing vs Process Costing: Perbedaan, Contoh, dan Penggunaannya dalam Manufaktur

Pelajari perbedaan Job Order Costing dan Process Costing, cara biaya dikumpulkan, contoh manufaktur, serta kapan perusahaan perlu memakai sistem hybrid.

Oleh digitalisasi.app Diperbarui 3 November 2026
Pekerja di beberapa stasiun produksi pabrik

Bayangkan dua pabrik sama-sama memproduksi 5.000 botol kosmetik. Pabrik pertama membuat formula khusus untuk beberapa pelanggan. Setiap pesanan mempunyai spesifikasi, bahan, dan volume yang berbeda. Pabrik kedua menjalankan produk standar dalam produksi berulang melalui tahap pencampuran, pengisian, dan pengemasan.

Keduanya perlu menghitung biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Namun, cara mengumpulkan biaya yang paling masuk akal bisa berbeda. Pabrik pertama mungkin membutuhkan biaya yang ditelusuri per pesanan. Pabrik kedua mungkin lebih tepat mengumpulkan biaya berdasarkan proses atau departemen produksi.

Dua pendekatan tersebut dikenal sebagai Job Order Costing dan Process Costing.

Perbedaan utamanya: biaya dikumpulkan berdasarkan apa?

Aspek Job Order Costing Process Costing
Objek pengumpulan biaya Pekerjaan, proyek, atau pesanan tertentu Proses, departemen, atau tahap produksi
Cocok untuk Produk/pesanan yang berbeda dan biaya dapat ditelusuri per pekerjaan Produk homogen atau proses standar yang menghasilkan banyak unit serupa
Catatan biaya Lembar biaya pekerjaan (job cost sheet) Laporan biaya per proses/departemen dan unit ekuivalen bila diperlukan
Biaya per unit Total biaya job dibagi output job yang relevan Biaya proses dialokasikan ke unit selesai dan WIP sesuai metode
Contoh Furnitur kustom, mesin dengan spesifikasi pelanggan, proyek produksi khusus Minuman, bahan kimia, cat, atau produk standar yang diproses berulang

OpenStax menjelaskan Job Order Costing sesuai ketika spesifikasi produk atau pelanggan tidak identik dan biaya material serta tenaga kerja dapat ditelusuri ke pekerjaan tertentu. Process Costing lebih sesuai ketika proses standar menghasilkan produk identik dalam jumlah besar dan biaya lebih praktis dikumpulkan per departemen atau proses. OpenStax — Compare and Contrast Job Order and Process Costing.

Bagaimana Job Order Costing bekerja?

Dalam Job Order Costing, perusahaan memberi identitas pada satu pekerjaan atau pesanan, lalu mengumpulkan biaya yang berkaitan dengannya.

Bayangkan produsen kosmetik menerima pesanan khusus untuk membuat 2.000 unit serum dengan formula dan kemasan milik pelanggan A. Pesanan itu menjadi satu job. Ketika bahan dikeluarkan, jam kerja dicatat, dan overhead dialokasikan, biaya dikumpulkan pada identitas pekerjaan yang sama.

Lembar biaya job dapat memuat:

  • bahan baku langsung yang digunakan;
  • jam atau biaya tenaga kerja langsung;
  • overhead produksi yang dialokasikan;
  • total biaya pesanan;
  • jumlah unit selesai yang dapat diterima.

Jika total biaya job adalah Rp60 juta dan menghasilkan 2.000 unit yang dapat diterima, biaya rata-rata job per unit adalah Rp30.000. Ini contoh ilustratif sederhana; penanganan produk gagal, rework, dan hasil antara harus ditentukan dalam kebijakan costing perusahaan.

Keunggulan pendekatan ini adalah perusahaan dapat melihat biaya suatu pekerjaan tertentu. Hal ini berguna ketika pelanggan, formula, spesifikasi, atau lingkup produksi membuat pesanan berbeda secara material.

Tantangannya, perusahaan perlu disiplin mengidentifikasi bahan dan jam kerja ke job yang benar. Semakin banyak pekerjaan kecil dan kustom, semakin besar kebutuhan pencatatan rinci.

Bagaimana Process Costing bekerja?

Process Costing mengumpulkan biaya berdasarkan proses atau departemen. Pendekatan ini cocok ketika perusahaan menjalankan rangkaian proses yang relatif standar untuk menghasilkan banyak unit serupa.

Misalnya, pabrik memproduksi lotion melalui tiga tahap:

  1. Mixing: bahan ditimbang dan dicampur menjadi bulk product.
  2. Filling: bulk product diisi ke botol atau wadah.
  3. Packaging: produk diberi label, dimasukkan ke kemasan sekunder, dan disiapkan sebagai barang jadi.

Setiap tahap mengakumulasi biaya material, tenaga kerja, dan overhead yang relevan. Barang yang selesai dari satu tahap dapat dipindahkan ke tahap berikutnya. Pada akhir periode, mungkin masih ada unit yang belum selesai di salah satu departemen.

Karena itu, Process Costing dapat menggunakan konsep equivalent units atau unit ekuivalen. Unit ekuivalen menggambarkan jumlah unit selesai yang setara dengan tingkat pekerjaan yang sudah dilakukan atas unit yang masih dalam proses. Perhitungannya dapat berbeda untuk material dan biaya konversi apabila tingkat penyelesaiannya berbeda.

OpenStax menjelaskan bahwa Process Costing umum digunakan untuk produksi massal atau berulang, dengan biaya dikumpulkan per proses/departemen. Jika masih ada barang dalam proses pada akhir periode, perusahaan perlu memperhitungkan tingkat penyelesaian untuk menentukan biaya per unit. OpenStax — Process Costing.

Apakah satu batch selalu berarti Job Order Costing?

Tidak. Batch adalah kelompok barang yang diproduksi dalam satu rangkaian atau lot. Job adalah objek biaya berupa pekerjaan atau pesanan. Keduanya dapat berhubungan, tetapi tidak otomatis sama.

Satu batch dapat menjadi job jika perusahaan memang mengumpulkan biaya berdasarkan pesanan atau pekerjaan tertentu. Namun, produksi batch yang berulang untuk produk standar dapat lebih dekat dengan Process Costing, terutama ketika biaya dikumpulkan per tahap atau departemen.

Karena itu, jangan memilih metode costing hanya berdasarkan apakah pabrik menggunakan istilah “batch” atau “Work Order”. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: di tingkat mana perusahaan ingin mengumpulkan biaya, dan bagaimana biaya dapat ditelusuri secara praktis?

Bagaimana jika perusahaan manufaktur kontrak memproduksi banyak merek?

Manufaktur kontrak atau contract manufacturing bisa memiliki karakter campuran.

Misalnya, satu pabrik memiliki:

  • formula standar yang diproduksi berulang untuk beberapa pelanggan;
  • formula khusus yang dikembangkan untuk satu pelanggan;
  • produk standar dengan kemasan atau label berbeda;
  • produksi dalam beberapa batch untuk memenuhi pesanan besar.

Untuk formula khusus yang biayanya dapat ditelusuri per pesanan, pendekatan Job Order dapat memberikan detail yang dibutuhkan. Untuk tahap produksi berulang dengan produk homogen, pendekatan Process Costing bisa lebih praktis. Perusahaan juga dapat menggunakan sistem hybrid: sebagian biaya dikumpulkan per job/customer, sementara sebagian proses mengumpulkan biaya per departemen atau tahapan produksi.

Sistem hybrid bukan jalan pintas untuk mencampur angka. Perusahaan perlu menetapkan titik perpindahan biaya dengan jelas, mencegah penghitungan ganda, dan memastikan total biaya yang dibebankan ke produk dapat direkonsiliasi.

Cara memilih metode yang sesuai

Gunakan pertanyaan berikut untuk menilai kebutuhan perusahaan:

Pertanyaan Jika jawabannya “ya” Arah yang mungkin sesuai
Apakah pesanan memiliki spesifikasi atau formula berbeda? Biaya tiap pesanan perlu dibedakan Job Order Costing
Apakah material dan jam kerja mudah ditelusuri ke pesanan tertentu? Detail biaya per pesanan dapat dikumpulkan Job Order Costing
Apakah produk dihasilkan melalui proses standar dan berulang? Output antarunit relatif homogen Process Costing
Apakah biaya lebih praktis dicatat per departemen/tahap? Biaya individual unit sulit ditelusuri Process Costing
Apakah sebagian proses kustom dan sebagian proses massal? Objek biaya berbeda pada tahap berbeda Sistem hybrid mungkin relevan

Jangan lupa mempertimbangkan biaya administrasi sistem. Mengumpulkan detail sampai tingkat job dapat memberi informasi lebih kaya, tetapi membutuhkan pencatatan, waktu, dan kontrol yang lebih besar. Sebaliknya, mengumpulkan biaya secara agregat dapat lebih sederhana, tetapi mungkin tidak menjawab pertanyaan manajemen tentang pelanggan atau produk tertentu.

Keduanya tetap menggunakan komponen biaya manufaktur yang sama

Job Order dan Process Costing bukan dua definisi tentang biaya yang boleh dimasukkan ke produk. Keduanya tetap perlu memperhatikan bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead produksi. Perbedaannya terutama terletak pada bagaimana biaya dikumpulkan dan dialokasikan kepada pekerjaan, proses, atau unit.

Hal ini juga berarti pemilihan Job Order atau Process Costing tidak otomatis menentukan apakah perusahaan menggunakan actual costing, standard costing, full costing, atau Activity-Based Costing. Itu merupakan dimensi keputusan costing yang berbeda.

Contoh alur sistem pencatatan

Untuk Job Order Costing, sistem perlu menghubungkan:

Pelanggan / Pesanan
       ↓
Work Order / Job
       ↓
Pemakaian material + jam kerja + overhead
       ↓
Biaya total pekerjaan
       ↓
Output selesai dan biaya per unit

Untuk Process Costing:

Departemen Mixing
       ↓
Biaya proses dan unit ekuivalen
       ↓
Departemen Filling
       ↓
Biaya proses dan unit ekuivalen
       ↓
Departemen Packaging
       ↓
Barang jadi dan biaya per unit

Struktur data dan laporan harus mencerminkan cara perusahaan menjalankan produksi. Jika sistem hanya menyimpan total biaya pada Work Order tetapi proses internal memiliki beberapa tahapan dan WIP, angka akhir mungkin belum cukup untuk menjelaskan biaya yang terjadi di setiap proses.

Kesimpulan: pilih metode berdasarkan aliran produksi, bukan nama dokumen

Job Order Costing cocok ketika biaya perlu dikumpulkan untuk pekerjaan atau pesanan yang memiliki karakter spesifik. Process Costing cocok ketika produk serupa dihasilkan melalui proses standar dan biaya lebih masuk akal dikumpulkan per departemen atau tahapan.

Bisnis manufaktur kontrak tidak harus selalu memilih salah satu secara kaku. Karakter pesanan, homogenitas produk, kemudahan penelusuran biaya, serta beban administrasi menentukan apakah satu pendekatan atau sistem hybrid lebih masuk akal.

Sebelum membangun sistem costing, petakan terlebih dahulu: siapa objek biaya yang ingin dinilai, di tahap mana biaya muncul, data aktual apa yang dapat dicatat, dan bagaimana barang berpindah dari bahan baku ke barang jadi. Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada hanya mengganti nama kolom menjadi “Job” atau “Process”.


Metadata editorial

  • Keyword utama: job order costing vs process costing
  • Intent: informasional/perbandingan; pembaca ingin memahami metode pengumpulan biaya dan memilih pendekatan.
  • Pembaca: owner, manajer produksi, finance manager, dan akuntan biaya manufaktur.
  • Nilai khas: contoh contract manufacturing kosmetik dan penjelasan bahwa batch tidak otomatis sama dengan job.
  • Internal link yang disarankan: “Cara Menghitung HPP Perusahaan Manufaktur”, “HPP per Batch vs HPP per SKU”, dan “Traditional Costing vs ABC”.
  • Catatan: contoh proses mixing/filling/packaging merupakan ilustrasi workflow, bukan klaim bahwa semua pabrik memakai urutan yang sama.

Referensi

  1. OpenStax — Compare and Contrast Job Order Costing and Process Costing
  2. OpenStax — Trace Product Costs Through Inventory Accounts
  3. OpenStax — Job Order Costing Summary