Keuangan 7 menit baca

HPP vs COGM vs COGS: Apa Perbedaan Harga Pokok Produksi dan Harga Pokok Penjualan?

Jangan tertukar antara harga pokok produksi, COGM, dan COGS. Pahami aliran biaya dari WIP, barang jadi, sampai barang yang benar-benar terjual.

Oleh digitalisasi.app Diperbarui 3 November 2026
Formulir keuangan dan kalkulator di atas meja kerja

Bayangkan sebuah pabrik menyelesaikan 10.000 botol produk pada bulan Oktober. Namun, sampai akhir bulan hanya 7.000 botol yang terjual. Apakah seluruh biaya untuk membuat 10.000 botol langsung menjadi beban pada laporan laba rugi bulan Oktober?

Tidak. Biaya produk yang belum terjual masih melekat pada persediaan barang jadi. Hanya biaya barang yang terjual yang diakui sebagai harga pokok penjualan pada periode penjualan, sesuai prinsip pengakuan biaya persediaan. IFRS menjelaskan bahwa nilai tercatat persediaan diakui sebagai beban pada periode ketika pendapatan terkait diakui. IAS 2 — Inventories.

Di sinilah perbedaan harga pokok produksi, COGM, dan COGS menjadi penting.

Tiga istilah yang menjawab pertanyaan berbeda

Istilah Kepanjangan/arti Pertanyaan yang dijawab
Harga Pokok Produksi Dalam konteks manufaktur, biaya barang yang selesai diproduksi selama periode Berapa biaya barang yang berhasil diselesaikan dari proses produksi?
COGM Cost of Goods Manufactured; istilah bahasa Inggris untuk biaya barang yang selesai diproduksi Berapa biaya yang dipindahkan dari WIP ke persediaan barang jadi?
Harga Pokok Penjualan Biaya persediaan yang berkaitan dengan barang yang terjual Berapa biaya barang yang telah dijual selama periode?
COGS Cost of Goods Sold; istilah bahasa Inggris untuk harga pokok penjualan Berapa biaya penjualan barang dalam periode tersebut?

Dalam pembahasan manufaktur, COGM umumnya sepadan dengan harga pokok produksi, sedangkan COGS sepadan dengan harga pokok penjualan. Perlu hati-hati dengan singkatan “HPP” saja karena dalam percakapan bisnis, orang kadang memakainya tanpa menjelaskan apakah yang dimaksud harga pokok produksi atau harga pokok penjualan.

Ikuti perjalanan satu barang: dari WIP ke barang jadi, lalu terjual

Untuk memahami perbedaannya, bayangkan biaya produksi berjalan melalui tiga kelompok persediaan:

Bahan baku
    ↓ dipakai dalam produksi
Barang dalam proses (WIP)
    ↓ produksi selesai
Barang jadi (Finished Goods)
    ↓ barang terjual
Harga pokok penjualan (COGS)

Ketika bahan baku dipakai dan tenaga kerja serta overhead dibebankan ke proses produksi, biayanya masuk ke WIP. Saat barang selesai, biaya yang terkait dengan unit selesai dipindahkan dari WIP ke persediaan barang jadi. Ketika barang tersebut dijual, nilai persediaannya dikeluarkan dari barang jadi dan diakui sebagai COGS.

OpenStax menjelaskan aliran yang sama: biaya bahan, tenaga kerja, dan overhead terakumulasi dalam WIP; ketika pekerjaan selesai, biaya berpindah ke barang jadi; ketika barang dijual, biayanya berpindah ke cost of goods sold. OpenStax — Trace the Flow of Product Costs.

Bagaimana menghitung COGM atau harga pokok produksi?

COGM menghitung biaya barang yang selesai diproduksi selama satu periode. Rumus umumnya:

COGM
= WIP awal
+ Total biaya manufaktur periode berjalan
- WIP akhir

Total biaya manufaktur periode berjalan mencakup bahan baku langsung yang digunakan, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik yang dialokasikan ke produksi.

Contoh ilustrasi:

  • WIP awal: Rp8.000.000
  • Biaya manufaktur periode berjalan: Rp100.000.000
  • WIP akhir: Rp13.000.000

Maka:

COGM = Rp8.000.000 + Rp100.000.000 - Rp13.000.000 = Rp95.000.000

Artinya, biaya barang yang selesai diproduksi dan dipindahkan ke persediaan barang jadi adalah Rp95 juta. Angka ini tidak berarti seluruh barang jadi tersebut sudah terjual.

Bagaimana menghitung COGS atau harga pokok penjualan?

COGS menghitung biaya barang yang keluar dari persediaan karena terjual selama periode. Dalam penyajian periodik sederhana, rumusnya:

COGS
= Persediaan barang jadi awal
+ COGM periode berjalan
- Persediaan barang jadi akhir

Lanjutkan contoh sebelumnya:

  • Persediaan barang jadi awal: Rp10.000.000
  • COGM periode berjalan: Rp95.000.000
  • Persediaan barang jadi akhir: Rp20.000.000

Maka:

COGS = Rp10.000.000 + Rp95.000.000 - Rp20.000.000 = Rp85.000.000

Dengan demikian, perusahaan memiliki Rp95 juta biaya barang yang selesai diproduksi, tetapi COGS periode tersebut adalah Rp85 juta. Selisihnya tercermin pada perubahan nilai persediaan barang jadi.

Angka tersebut adalah contoh perhitungan periodik untuk menjelaskan aliran biaya. Pada sistem perpetual, nilai COGS dapat diperbarui setiap transaksi penjualan berdasarkan metode penilaian persediaan yang digunakan.

Mengapa COGM dan COGS tidak selalu sama?

Karena jumlah barang yang diproduksi dan jumlah barang yang dijual bisa berbeda.

  • Jika produksi lebih besar daripada penjualan, sebagian biaya barang jadi tertahan sebagai persediaan akhir.
  • Jika penjualan lebih besar daripada produksi periode berjalan, perusahaan mungkin menjual barang dari persediaan awal.
  • Jika produksi dan penjualan sama, COGM dan COGS tetap belum tentu identik apabila nilai persediaan awal dan akhir atau komposisi biaya persediaan berbeda.

Perbedaan ini penting saat manajemen membaca performa. Kenaikan produksi tidak otomatis berarti kenaikan beban COGS dalam jumlah yang sama. Sebaliknya, penjualan tinggi dapat menggunakan barang yang dibuat pada periode sebelumnya.

Di mana posisi HPP per unit?

HPP per unit biasanya mengacu pada biaya per unit barang yang diproduksi atau dijual, bergantung konteks penggunaannya. Karena itu, laporan perlu menyebut dengan jelas basis perhitungannya.

Misalnya, biaya produksi Rp95 juta menghasilkan 5.000 unit selesai. Rata-rata biaya produksi per unit dalam ilustrasi homogen tersebut adalah Rp19.000. Namun, jika 3.000 unit dari persediaan tersedia terjual, nilai COGS tidak selalu cukup dihitung dengan mengalikan 3.000 unit dengan HPP produksi bulan berjalan. Perusahaan harus menerapkan metode biaya persediaan yang sesuai terhadap unit yang keluar.

IAS 2 mengatur formula biaya persediaan: identifikasi spesifik digunakan untuk barang yang tidak saling dipertukarkan atau proyek tertentu; untuk persediaan yang lazimnya saling dipertukarkan, formula FIFO atau rata-rata tertimbang digunakan. Pilihan formula perlu diterapkan konsisten pada persediaan yang memiliki sifat dan penggunaan serupa. IFRS — IAS 2, Cost Formulas.

Tiga kesalahan saat membaca laporan manufaktur

Menganggap COGM sebagai biaya barang yang sudah terjual. COGM hanya mencerminkan barang yang selesai diproduksi. Barang yang belum terjual masih berada dalam persediaan.

Menganggap seluruh pembelian bahan baku sebagai HPP. Bahan baku yang belum dipakai tetap menjadi persediaan bahan baku, bukan otomatis biaya barang yang diproduksi.

Membandingkan HPP per unit tanpa mengetahui metode valuasi. HPP produksi batch tertentu, biaya rata-rata SKU, dan nilai COGS untuk unit yang terjual bisa berbeda. Laporan harus memperlihatkan metode serta periode yang digunakan.

Laporan apa yang sebaiknya disiapkan perusahaan?

Agar angka dapat ditelusuri, perusahaan manufaktur sebaiknya memisahkan laporan atau rincian berikut:

  1. Laporan pemakaian bahan baku: saldo awal, pembelian, pemakaian, dan saldo akhir.
  2. Laporan biaya produksi: bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead.
  3. Laporan WIP: biaya barang yang belum selesai pada awal dan akhir periode.
  4. Laporan COGM: biaya barang yang selesai diproduksi.
  5. Laporan persediaan barang jadi: saldo awal, penambahan dari produksi, pengeluaran, dan saldo akhir.
  6. Laporan COGS: biaya persediaan barang yang benar-benar keluar karena penjualan.

Jika laporan keuangan hanya menampilkan satu angka “HPP” tanpa menjelaskan apakah itu COGM atau COGS, pembaca akan kesulitan memahami hubungan antara aktivitas produksi dan penjualan.

Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan dua angka berbeda. Perusahaan perlu dapat menelusuri bagaimana biaya bergerak dari bahan baku ke WIP, menjadi barang jadi, lalu diakui sebagai beban ketika barang terjual. Ketika data produksi, inventory, dan penjualan terhubung, selisih antarangka dapat dijelaskan, bukan hanya direkonsiliasi di akhir bulan.


Metadata editorial

  • Keyword utama: perbedaan COGM dan COGS
  • Intent: informasional; pembaca ingin membedakan biaya barang selesai diproduksi dan barang yang terjual.
  • Pembaca: owner manufaktur, akuntan, finance manager, dan manajer produksi.
  • Nilai khas: alur angka dari WIP ke finished goods dan COGS dengan contoh terhubung.
  • Internal link yang disarankan: “Cara Menghitung HPP Perusahaan Manufaktur” dan “HPP per Batch vs HPP per SKU”.
  • Catatan istilah: “HPP” dapat ambigu dalam percakapan; gunakan istilah lengkap di setiap laporan dan heading.

Referensi

  1. IFRS Foundation — IAS 2 Inventories
  2. OpenStax — Cost Flow Through Inventory Accounts
  3. OpenStax — Job Order Costing and Process Costing