Cara Membuat Kode SKU Barang: Struktur, Contoh, dan Aturan Penomoran Produk
Pelajari cara membuat kode SKU barang yang unik dan konsisten, mulai dari menentukan atribut, format kode, contoh penomoran, hingga aturan perubahan master produk.

Bayangkan sebuah produsen kosmetik mulai menjual serum Vitamin C dalam dua ukuran: 30 ml dan 50 ml. Pada awalnya, tim hanya mencatat stok sebagai “Serum Vitamin C”. Ketika pesanan bertambah, pertanyaan sederhana mulai muncul: berapa botol ukuran 30 ml yang tersedia? Apakah stok ukuran 50 ml bisa dipakai untuk memenuhi pesanan yang meminta kemasan lebih kecil?
Masalahnya bukan kekurangan nama produk. Masalahnya, perusahaan belum memiliki identitas yang membedakan barang yang stoknya harus dihitung secara terpisah.
Kode SKU membantu menyelesaikan persoalan itu. Namun, membuat SKU bukan sekadar menggabungkan beberapa huruf dan angka. Perusahaan perlu menetapkan aturan yang bisa dipakai konsisten oleh tim gudang, purchasing, penjualan, produksi, dan sistem yang terhubung.
Sebelum membuat kode, tentukan dulu apa yang perlu dibedakan
SKU sebaiknya diberikan pada unit persediaan yang memang dikelola secara terpisah. Karena itu, jangan mulai dengan memilih format kode. Mulailah dengan memetakan katalog barang.
Misalnya, perusahaan menjual satu jenis serum dengan dua volume dan dua jenis kemasan:
| Produk | Volume | Kemasan | Apakah stok dikelola terpisah? |
|---|---|---|---|
| Serum Vitamin C | 30 ml | Botol kaca | Ya |
| Serum Vitamin C | 50 ml | Botol kaca | Ya |
| Serum Vitamin C | 30 ml | Airless pump | Ya, bila merupakan barang jual yang berbeda |
Jika ketiga konfigurasi tersebut memiliki saldo, harga, atau pemenuhan pesanan yang berbeda, masing-masing membutuhkan identitas SKU yang unik. Jangan membuat satu SKU untuk semua produk hanya karena nama atau formulanya sama.
Dokumentasi Shopify menyebutkan bahwa setiap produk dan varian yang dilacak sebagai varian berbeda perlu memiliki SKU unik. Shopify juga mengingatkan bahwa duplikasi SKU dapat mengganggu pelacakan inventaris dan integrasi pihak ketiga. Shopify Help Center.
Langkah 1 — Tetapkan atribut yang benar-benar penting
Pilih atribut yang membedakan persediaan. Untuk bisnis manufaktur atau distribusi, atributnya dapat berupa:
- kode kategori atau keluarga produk;
- merek atau pemilik merek, khususnya untuk manufaktur kontrak;
- tipe atau formula produk;
- ukuran, volume, berat, atau kapasitas;
- jenis kemasan atau konfigurasi penjualan;
- varian warna, rasa, atau spesifikasi lain yang memengaruhi stok.
Tidak semua atribut harus masuk ke dalam kode SKU. Atribut yang jarang dipakai untuk pencarian barang atau mudah berubah lebih baik disimpan sebagai kolom terpisah pada master produk.
Contohnya, harga jual tidak ideal dimasukkan ke SKU. Harga dapat berubah karena promosi, negosiasi, atau kebijakan komersial, sedangkan identitas stok seharusnya tetap. Nama pemasok juga belum tentu cocok menjadi bagian kode apabila perusahaan bisa membeli barang yang sama dari pemasok berbeda.
Langkah 2 — Pilih format yang ringkas dan konsisten
Tidak ada format SKU yang wajib digunakan semua perusahaan. Format yang baik adalah format yang mudah dipahami tim, tidak mudah tertukar, cukup unik, dan dapat diperluas ketika katalog bertambah.
Contoh struktur sederhana:
[KATEGORI]-[JENIS]-[UKURAN]
Untuk serum Vitamin C ukuran 30 ml, contohnya:
SER-VC-030
Artinya:
SER: keluarga produk serum;VC: jenis atau varian Vitamin C;030: ukuran 30 ml.
Untuk ukuran 50 ml, kode menjadi SER-VC-050. Kode tersebut hanya contoh rancangan, bukan standar industri.
Shopify menyarankan format SKU yang sederhana, konsisten, unik, dan dirancang untuk pertumbuhan katalog. Dokumentasinya memberi contoh bahwa huruf dan angka dapat digabung, tanda hubung atau garis bawah bisa menjadi pemisah, dan karakter yang mudah tertukar seperti angka 0 dengan huruf O sebaiknya dihindari. Praktik terbaik SKU Shopify.
Langkah 3 — Buat kamus singkatan
Kode pendek hanya berguna apabila artinya konsisten. Jika BLK berarti hitam untuk satu kategori, jangan gunakan BLK untuk arti lain pada kategori berbeda tanpa aturan yang jelas.
Buat kamus sederhana seperti ini:
| Atribut | Nilai | Kode |
|---|---|---|
| Kategori | Serum | SER |
| Kategori | Facial Wash | FW |
| Varian | Vitamin C | VC |
| Varian | Niacinamide | NC |
| Ukuran | 30 ml | 030 |
| Ukuran | 50 ml | 050 |
Kamus ini harus dikelola sebagai bagian dari master data. Jika setiap cabang atau admin membuat singkatan sendiri, kode akan cepat kehilangan konsistensi.
Langkah 4 — Pastikan setiap SKU unik
Sebelum kode dipakai, sistem atau daftar master perlu memeriksa apakah kode tersebut sudah digunakan. Contoh berikut tidak boleh menunjuk pada dua barang yang berbeda:
| Kode SKU | Deskripsi |
|---|---|
SER-VC-030 |
Serum Vitamin C 30 ml |
SER-VC-050 |
Serum Vitamin C 50 ml |
SER-NC-030 |
Serum Niacinamide 30 ml |
Jika SER-VC-030 sudah digunakan untuk produk tertentu, jangan gunakan kembali kode itu untuk produk baru setelah barang lama dihentikan. Kode lama mungkin masih muncul dalam transaksi pembelian, penjualan, stok, retur, atau laporan historis.
Prinsip yang lebih aman adalah: SKU yang sudah pernah dipakai tidak digunakan ulang untuk barang lain. Jika spesifikasi barang berubah secara material sehingga stok lama tidak dapat dipertukarkan dengan stok baru, evaluasi apakah perlu SKU baru.
Langkah 5 — Pisahkan SKU dari nomor batch dan kode pemasok
Satu produk dapat diproduksi berkali-kali. Misalnya, SER-VC-030 diproduksi pada tiga kesempatan dengan nomor batch berbeda:
| SKU | Nomor batch | Kuantitas selesai |
|---|---|---|
SER-VC-030 |
LOT-VC-2601 |
1.000 botol |
SER-VC-030 |
LOT-VC-2603 |
1.500 botol |
SER-VC-030 |
LOT-VC-2605 |
2.000 botol |
SKU tetap sama karena jenis barangnya sama. Nomor batch berbeda karena kelompok produksinya berbeda. Jangan menanamkan nomor batch ke dalam SKU apabila hal itu membuat setiap produksi dianggap barang baru.
Kode pemasok juga sebaiknya dikelola terpisah. Satu bahan baku dapat dibeli dari beberapa pemasok, sementara SKU internal bahan baku yang dikelola perusahaan bisa tetap sama jika spesifikasi dan status penerimaannya memang setara. Jika spesifikasi atau kelas mutu berbeda, barangnya mungkin perlu dibedakan.
Langkah 6 — Uji kode dengan transaksi nyata
Sebelum menerapkan aturan ke seluruh katalog, coba pada satu kelompok produk. Pastikan kode dapat digunakan tanpa kebingungan pada proses berikut:
- Pembelian: staf memilih barang yang tepat saat membuat purchase order dan menerima barang.
- Penyimpanan: gudang dapat menemukan lokasi dan saldo barang berdasarkan SKU.
- Produksi: bahan yang dipakai serta barang jadi yang dihasilkan terhubung ke SKU yang benar.
- Penjualan: pesanan dan pengiriman tidak tertukar antarvariasi.
- Pelaporan: manajemen dapat membaca stok dan penjualan per varian.
- Integrasi: file impor, marketplace, POS, atau ERP dapat memetakan kode yang sama secara konsisten.
Uji juga kondisi khusus: produk baru, perubahan kemasan, barang pengganti, paket bundling, retur, dan barang yang dihentikan. Kebijakan yang hanya bekerja pada transaksi normal belum cukup.
Aturan penomoran SKU yang sebaiknya ditetapkan perusahaan
Agar sistem tidak bergantung pada ingatan satu admin, dokumentasikan aturan berikut:
| Aturan | Keputusan yang perlu dibuat |
|---|---|
| Pemilik master data | Tim atau jabatan yang berhak membuat SKU baru |
| Dasar pembuatan SKU | Atribut yang menyebabkan barang perlu dibedakan |
| Format dan kamus kode | Panjang, pemisah, singkatan, dan aturan karakter |
| Keunikan | Pemeriksaan duplikasi sebelum kode disimpan |
| Perubahan spesifikasi | Kapan kode lama dipertahankan dan kapan SKU baru dibuat |
| Penghentian barang | Bagaimana SKU nonaktif tetap disimpan untuk histori |
| Integrasi | Field mana yang menjadi kode internal utama |
| Audit | Cara menelusuri siapa mengubah master data dan kapan |
Contoh: membuat SKU untuk manufaktur kosmetik
Bayangkan perusahaan memproduksi dua jenis produk untuk satu merek pelanggan: serum Vitamin C dan facial wash. Masing-masing tersedia dalam dua ukuran.
| Produk | Ukuran | Contoh SKU |
|---|---|---|
| Serum Vitamin C | 30 ml | SER-VC-030 |
| Serum Vitamin C | 50 ml | SER-VC-050 |
| Facial Wash | 100 ml | FW-100 |
| Facial Wash | 200 ml | FW-200 |
Jika perusahaan juga memproduksi barang untuk beberapa pemilik merek, kode merek dapat ditambahkan apabila diperlukan untuk membedakan persediaan. Namun, pertimbangkan apakah pemilik merek sebaiknya menjadi atribut terpisah agar struktur kode tidak terlalu panjang.
Kode SKU tersebut hanya mengidentifikasi barang jadi. Bahan baku, bahan kemas, dan barang setengah jadi juga dapat mempunyai SKU internal masing-masing apabila persediaannya dikelola. Formula atau BOM dapat memiliki kode dan versi tersendiri. Nomor batch tetap menjadi identitas kelompok produksi, bukan pengganti SKU.
Kapan format SKU perlu diubah?
Jangan mengubah format hanya karena perusahaan ingin kode terlihat lebih modern. Perubahan sebaiknya dilakukan ketika format lama benar-benar menghambat identifikasi, integrasi, atau perluasan katalog.
Jika format lama harus diganti, jangan menghapus histori atau menimpa kode transaksi lama. Buat pemetaan kode lama ke kode baru, tetapkan tanggal transisi, dan uji dampaknya terhadap stok, pesanan terbuka, barcode, laporan, serta integrasi. Perubahan master data adalah perubahan proses, bukan sekadar mengganti teks.
Kode SKU yang baik tidak harus panjang atau penuh informasi. Ia harus cukup untuk menunjuk barang yang tepat, stabil sepanjang siklus hidup barang, dan dipakai sama oleh seluruh proses bisnis.
Metadata editorial
- Keyword utama: cara membuat SKU barang
- Intent: panduan praktis untuk merancang kode barang yang akan dipakai pada master produk dan persediaan.
- Pembaca: owner, admin master data, kepala gudang, purchasing, dan tim operasional manufaktur/retail.
- Nilai khas: aturan pembuatan dan pemeliharaan SKU, bukan hanya daftar contoh kode.
- Internal link yang disarankan: “Apa Itu SKU?” dan “Apa Itu Batch Tracking?”. Tambahkan URL setelah artikel terkait diterbitkan.
- Catatan: format
SER-VC-030dan contoh SKU lain merupakan ilustrasi, bukan standar resmi.
Referensi
Artikel terkait
Pahami batch tracking dan lot tracking, mulai dari nomor batch, pencatatan bahan baku, proses produksi, QC, stok barang jadi, hingga penelusuran distribusi.
Baca artikel
Pelajari cara menghitung harga pokok produksi perusahaan manufaktur melalui biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, overhead pabrik, dan persediaan dalam proses.
Baca artikel
Jangan tertukar antara harga pokok produksi, COGM, dan COGS. Pahami aliran biaya dari WIP, barang jadi, sampai barang yang benar-benar terjual.
Baca artikel