Full Costing vs Variable Costing: Perbedaan Metode Perhitungan HPP dan Contohnya
Pahami perbedaan Full Costing dan Variable Costing, terutama perlakuan overhead pabrik tetap, biaya per unit, nilai persediaan, dan kegunaan laporan manajemen.

Bayangkan sebuah pabrik tetap membayar penyusutan mesin dan sewa fasilitas meskipun jumlah produksi bulan ini turun. Ketika produksi naik, total biaya tetap tersebut tidak otomatis ikut naik dalam proporsi yang sama. Namun, biaya tetap per unit dapat berubah karena jumlah unit yang menjadi pembaginya berubah.
Cara perusahaan memperlakukan biaya overhead pabrik tetap akan memengaruhi biaya produk, nilai persediaan, dan laba yang dilaporkan. Dua pendekatan yang sering dibandingkan adalah Full Costing (Absorption Costing) dan Variable Costing.
Perbedaan utamanya bukan pada apakah perusahaan mencatat biaya tetap. Keduanya mencatat biaya tersebut. Perbedaannya adalah apakah overhead manufaktur tetap dimasukkan ke biaya produk atau langsung dibebankan sebagai biaya periode.
Apa itu Full Costing?
Full Costing, yang dalam literatur akuntansi manajerial juga disebut Absorption Costing, memasukkan seluruh biaya manufaktur ke biaya produk, baik biaya variabel maupun biaya tetap.
Dalam pendekatan ini, biaya produk pada umumnya mencakup:
- bahan baku langsung;
- tenaga kerja langsung;
- overhead manufaktur variabel;
- overhead manufaktur tetap.
Dengan demikian, sebagian overhead pabrik tetap melekat pada persediaan barang dalam proses dan barang jadi sampai barang tersebut dijual atau diakui sebagai beban sesuai ketentuan akuntansi yang berlaku.
IAS 2 menyatakan bahwa biaya konversi persediaan mencakup biaya yang berhubungan langsung dengan unit produksi serta alokasi sistematis overhead produksi tetap dan variabel. IFRS Foundation — IAS 2 Inventories.
Apa itu Variable Costing?
Variable Costing hanya memasukkan biaya manufaktur variabel ke biaya produk. Overhead manufaktur tetap dibebankan sebagai biaya periode saat terjadi, bukan dimasukkan ke nilai persediaan.
Dalam pendekatan ini, biaya produk pada umumnya mencakup bahan baku langsung, tenaga kerja langsung yang diperlakukan sebagai variabel sesuai kondisi, dan overhead manufaktur variabel. Overhead manufaktur tetap disajikan terpisah sebagai biaya periode.
Pendekatan ini dapat membantu manajemen membaca hubungan antara volume, biaya variabel, dan kontribusi produk. Namun, untuk pelaporan keuangan eksternal berbasis standar persediaan seperti IAS 2/PSAK yang relevan, perusahaan perlu memasukkan alokasi overhead produksi tetap dan variabel dalam biaya persediaan. Variable Costing lebih tepat dipahami sebagai pendekatan analisis internal, bukan pengganti formula pengukuran persediaan yang diwajibkan standar. OpenStax — Variable and Absorption Costing.
Perbedaan Full Costing dan Variable Costing
| Aspek | Full/Absorption Costing | Variable Costing |
|---|---|---|
| Bahan baku langsung | Biaya produk | Biaya produk |
| Tenaga kerja langsung | Biaya produk | Biaya produk jika bersifat variabel sesuai asumsi metode |
| Overhead manufaktur variabel | Biaya produk | Biaya produk |
| Overhead manufaktur tetap | Biaya produk | Biaya periode |
| Nilai persediaan | Memuat biaya manufaktur tetap dan variabel | Tidak memuat overhead manufaktur tetap |
| Kegunaan umum | Pengukuran persediaan dan pelaporan keuangan sesuai standar relevan | Analisis internal, kontribusi, dan cost-volume-profit |
Perlu dibedakan antara biaya tetap manufaktur dan biaya tetap nonmanufaktur. Biaya pemasaran atau administrasi yang tetap tidak otomatis menjadi biaya produk hanya karena perusahaan menggunakan Full Costing. Istilah “full” di sini merujuk pada seluruh biaya manufaktur yang memenuhi kriteria biaya produk, bukan seluruh pengeluaran perusahaan.
Contoh perhitungan Full Costing dan Variable Costing
Misalkan suatu pabrik memproduksi 10.000 unit dalam satu bulan. Data biaya produksinya:
| Komponen | Total biaya | Per unit |
|---|---|---|
| Bahan baku langsung | Rp120.000.000 | Rp12.000 |
| Tenaga kerja langsung | Rp50.000.000 | Rp5.000 |
| Overhead variabel | Rp20.000.000 | Rp2.000 |
| Overhead tetap | Rp40.000.000 | Rp4.000 |
| Total | Rp230.000.000 | Rp23.000 |
Biaya produk menurut Full Costing
Seluruh biaya manufaktur dimasukkan:
Rp12.000 + Rp5.000 + Rp2.000 + Rp4.000 = Rp23.000 per unit
Nilai persediaan barang jadi memasukkan bagian overhead tetap yang dialokasikan ke unit tersebut, dengan tetap memperhatikan ketentuan alokasi overhead tetap berdasarkan kapasitas normal dan perlakuan yang tepat atas overhead yang tidak teralokasi.
Biaya produk menurut Variable Costing
Hanya biaya manufaktur variabel yang dimasukkan ke biaya produk:
Rp12.000 + Rp5.000 + Rp2.000 = Rp19.000 per unit
Overhead tetap Rp40 juta dibebankan sebagai biaya periode, bukan menjadi bagian biaya persediaan.
Selisih biaya produk antara dua pendekatan adalah Rp4.000 per unit, yaitu alokasi overhead tetap.
Mengapa laba periode dapat berbeda?
Sekarang anggap perusahaan menjual 8.000 dari 10.000 unit yang diproduksi. Sebanyak 2.000 unit tersisa sebagai persediaan akhir.
Dalam Full Costing, nilai overhead tetap yang melekat pada persediaan akhir adalah:
2.000 unit × Rp4.000 = Rp8.000.000
Biaya tetap manufaktur yang melekat pada unit belum terjual tersebut belum masuk ke COGS pada periode ini. Dalam Variable Costing, seluruh overhead tetap Rp40 juta diakui sebagai biaya periode.
Dengan demikian, laba periode dapat berbeda ketika jumlah produksi tidak sama dengan jumlah penjualan. Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan waktu pengakuan overhead tetap, bukan berarti salah satu metode membuat biaya kas pabrik menjadi berbeda.
OpenStax menjelaskan bahwa perbedaan laba antara absorption dan variable costing berkaitan dengan overhead manufaktur tetap yang tertahan di persediaan pada absorption costing dan langsung dibebankan pada variable costing. Ketika semua unit yang diproduksi telah terjual, perbedaan waktu pengakuan tersebut dapat berbalik. OpenStax — Compare Variable and Absorption Costing.
Mengapa overhead tetap tidak boleh asal dibagi dengan output aktual?
Ada satu aturan penting dalam IAS 2: alokasi overhead produksi tetap didasarkan pada kapasitas normal fasilitas produksi. Kapasitas normal adalah produksi yang diharapkan tercapai rata-rata dalam sejumlah periode atau musim pada keadaan normal, dengan mempertimbangkan kehilangan kapasitas akibat pemeliharaan terencana.
Jika produksi aktual rendah karena pabrik menganggur atau utilisasi turun, overhead tetap per unit tidak boleh dinaikkan begitu saja agar seluruh biaya tetap terserap ke persediaan. Bagian overhead tetap yang tidak teralokasi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Pada produksi abnormal tinggi, alokasi per unit diturunkan agar persediaan tidak dinilai melebihi biaya.
Ketentuan ini penting karena membagi biaya tetap dengan output aktual yang sangat rendah dapat membuat biaya per unit melonjak dan nilai persediaan menjadi terlalu tinggi. Detail ini dijelaskan pada paragraf 13 IAS 2. IFRS — IAS 2.
Kapan manajemen menggunakan Variable Costing?
Variable Costing dapat membantu keputusan internal yang membutuhkan pemisahan antara biaya yang berubah mengikuti volume dan biaya tetap periode. Contohnya:
- analisis kontribusi produk;
- analisis cost-volume-profit;
- simulasi perubahan volume produksi atau penjualan;
- keputusan jangka pendek dengan kapasitas menganggur;
- evaluasi dampak biaya variabel terhadap margin kontribusi.
Namun, hasil analisis tidak boleh dicampur begitu saja dengan nilai persediaan pada laporan keuangan. Label laporan harus menyebut pendekatan yang digunakan agar pembaca tidak membandingkan angka dari dasar yang berbeda.
Kapan Full Costing digunakan?
Full/Absorption Costing dibutuhkan untuk mengukur biaya persediaan yang mencakup alokasi overhead produksi tetap dan variabel sesuai standar yang relevan. Metode ini juga membantu manajemen memahami biaya manufaktur lengkap yang melekat pada produk.
Namun, angka Full Costing per unit tetap bergantung pada basis alokasi overhead, estimasi kapasitas normal, serta akurasi pencatatan produksi. Memasukkan overhead tetap ke biaya produk tidak otomatis membuat alokasinya akurat apabila dasar yang dipilih tidak mencerminkan konsumsi sumber daya.
Jangan mencampur Full Costing dengan ABC atau Job Order Costing
Full Costing menjawab pertanyaan: biaya manufaktur mana yang menjadi bagian biaya produk?
Sementara itu:
- Job Order Costing atau Process Costing menjawab di mana biaya dikumpulkan.
- Traditional Costing atau ABC menjawab bagaimana overhead dialokasikan.
- Actual Costing atau Standard Costing menjelaskan basis pengukuran biaya.
Perusahaan dapat menerapkan Job Order Costing dengan Full Costing, atau Process Costing dengan metode alokasi overhead tertentu. ABC pun dapat dipakai untuk mengembangkan dasar alokasi overhead dalam sistem yang tetap memasukkan biaya produksi sesuai aturan pengukuran persediaan.
Kesimpulan: gunakan laporan sesuai tujuan, tetapi jaga konsistensi basisnya
Full Costing memasukkan overhead manufaktur tetap dan variabel sebagai biaya produk. Variable Costing memasukkan biaya manufaktur variabel ke produk dan membebankan overhead tetap sebagai biaya periode.
Keduanya berguna untuk tujuan yang berbeda. Manajemen dapat memakai Variable Costing untuk analisis internal, tetapi nilai persediaan untuk pelaporan keuangan perlu mengikuti standar yang berlaku, termasuk alokasi overhead produksi tetap dan variabel sesuai IAS 2/PSAK terkait.
Saat membaca HPP, tanyakan bukan hanya berapa nilainya, tetapi juga biaya apa yang dimasukkan, bagaimana overhead dialokasikan, kapasitas apa yang digunakan, dan apakah angka itu dipakai untuk analisis internal atau pelaporan keuangan. Tanpa konteks tersebut, dua angka HPP yang berbeda belum tentu menunjukkan bahwa salah satunya keliru.
Metadata editorial
- Keyword utama: full costing vs variable costing
- Intent: informasional/perbandingan; pembaca ingin mengetahui perbedaan perlakuan biaya tetap dan implikasinya.
- Pembaca: finance manager, akuntan biaya, owner manufaktur, dan manajer operasional.
- Nilai khas: simulasi nilai persediaan dan laba serta penjelasan kapasitas normal dalam IAS 2.
- Internal link yang disarankan: “Activity-Based Costing vs Traditional Costing”, “Cara Menghitung HPP Perusahaan Manufaktur”, dan “HPP vs COGM vs COGS”.
- Catatan standar: artikel ini menggunakan IAS 2 sebagai rujukan umum. Penerapan PSAK terkini, kebijakan perusahaan, dan kebutuhan pelaporan harus ditinjau akuntan yang kompeten.
Referensi
Artikel terkait

Pelajari rumus gross margin per produk dan SKU, cara menghitung laba kotor, membaca persentase margin, serta membedakannya dari contribution margin dan laba bersih.
Baca artikel
Pelajari penyebab stok Excel berbeda dari stok gudang, cara memeriksa selisih, dan kapan bisnis perlu beralih ke sistem inventaris.
Baca artikel
Cari tahu mengapa order WhatsApp terlewat, cara menghitung dampak finansialnya, dan cara membangun proses pencatatan pesanan yang lebih tertib.
Baca artikel